Garut, 19 Ramadhan 1447 H / 09 Maret 2026 M_ Siang

Menjelang datangnya Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, Pimpinan Daerah Persatuan Islam (PD Persis) Kabupaten Garut menggelar kegiatan pembekalan bagi para khatib Idul Fitri. Kegiatan yang dilaksanakan pada Senin, 09 Maret 2026 ini menjadi salah satu upaya strategis PD Persis Garut dalam mempersiapkan ratusan khatib agar mampu menyampaikan khutbah yang tidak hanya sarat dengan nilai-nilai keislaman, tetapi juga memperkuat semangat kebangsaan dan persatuan umat.

Acara ini diikuti oleh ratusan khatib dari berbagai cabang dan jamaah Persis yang tersebar di wilayah Kabupaten Garut. Para peserta tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan yang dirancang secara sistematis untuk memberikan bekal keilmuan, wawasan kebangsaan, serta panduan praktis dalam menyampaikan khutbah Idul Fitri yang mencerahkan dan menyejukkan masyarakat.

Kegiatan diawali dengan pembukaan yang berlangsung khidmat. Suasana ruangan terasa penuh kekhusyukan saat acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang mengingatkan seluruh peserta akan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan, termasuk dalam menyampaikan dakwah kepada masyarakat.

Setelah itu, seluruh peserta bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Persis. Momentum ini menjadi simbol kuat bahwa dakwah Islam tidak terlepas dari kecintaan terhadap tanah air. Para peserta berdiri dengan penuh semangat, menyatukan nilai keislaman dan kebangsaan dalam satu ruh perjuangan dakwah.

Memasuki sesi sambutan, Ketua PD Persis Kabupaten Garut, Dr. H. Gun Gun Abdul Basit, M.Ag, menyampaikan pentingnya peran khatib dalam membimbing umat, khususnya pada momentum Idul Fitri yang dihadiri oleh jamaah dalam jumlah besar.

Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa khutbah Idul Fitri bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sarana dakwah strategis untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat. Oleh karena itu, para khatib diharapkan mampu menyampaikan pesan keislaman yang menyejukkan, membangun persatuan, serta menumbuhkan semangat memperbaiki diri setelah menjalani ibadah Ramadhan.

Ia juga mengingatkan bahwa khatib memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga ukhuwah umat dan menghindari narasi-narasi yang dapat memecah belah masyarakat.

“Khutbah Idul Fitri harus menjadi khutbah yang mempersatukan, memberikan harapan, dan membangkitkan semangat umat untuk menjadi pribadi yang lebih baik setelah Ramadhan,” ungkapnya.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua Penasihat PD Persis Kabupaten Garut, Al-Ustadz H. Ena Sumpena, M.Pd.I. Dalam arahannya, beliau menekankan pentingnya kesiapan ilmiah dan spiritual bagi para khatib.

Menurutnya, seorang khatib tidak hanya dituntut memiliki kemampuan berbicara di depan jamaah, tetapi juga harus memiliki kedalaman ilmu agama serta kepekaan terhadap kondisi sosial masyarakat.

Ia mengajak para khatib untuk menjadikan khutbah sebagai sarana membimbing umat menuju kehidupan yang lebih taat kepada Allah sekaligus lebih peduli terhadap sesama.

“Khutbah Idul Fitri harus mampu menghidupkan semangat taqwa yang telah dibangun selama Ramadhan, sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial di tengah masyarakat,” tuturnya.

Setelah sesi sambutan, acara dilanjutkan dengan seminar kebangsaan bertema “Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan” yang disampaikan oleh Anggota MPR RI Komisi X, H. Muhammad Khoerudin Amin, S.Ag, MH.

Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa empat pilar kebangsaan yang meliputi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta Bhinneka Tunggal Ika merupakan fondasi penting dalam menjaga keutuhan bangsa.

Ia menegaskan bahwa para tokoh agama, termasuk para khatib, memiliki peran strategis dalam memperkuat pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai kebangsaan tersebut.

Menurutnya, dakwah Islam sejatinya sangat selaras dengan nilai-nilai kebangsaan yang menjunjung tinggi persatuan, keadilan, dan kemaslahatan bersama.

“Para khatib memiliki mimbar yang didengar oleh masyarakat luas. Karena itu, khutbah Idul Fitri juga dapat menjadi sarana untuk menanamkan nilai persatuan, toleransi, dan cinta tanah air,” jelasnya.

Ia juga mengapresiasi inisiatif PD Persis Garut yang memadukan pembekalan keagamaan dengan wawasan kebangsaan, sehingga para khatib memiliki perspektif yang lebih luas dalam menyampaikan pesan dakwah.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi Pembekalan Khutoba Idul Fitri 1447 H yang disampaikan oleh dua narasumber, yaitu Ka Bidgar Dakwah PD Persis Garut Ust. H. Husen Zaenal Muttaqin, Lc dan Ust. Ramdan Hidayat, Lc.

Dalam materinya, Ustadz Husen Zaenal Muttaqin Menjelaskan materi tentang :

“Meraih Istiqamah Pasca Ramadhan”, yang poin poin penting dianataranya :

Bersyukur Atas Nikmatnya Hidayah yang telah Allah berikan,  kita harus Khawatir Amal Shalih dan Ketaatan Tidak Diterima, dan Tanda Amal Shalih diterima oleh Allah SWT, kemudian Kekhawatiran Dicabutnya Nikmat Hidayah, Peringatan Dari Allah SWT, belau juga melanjutkan penjelasan nya tentang ; “ Kiat Meraih Istiqamah dalam Beramal dianataranya Adalah Memiliki niat dan tekad yang kuat untuk mendawamkan amal, kemudian Berusaha Maksimal (mujahadah) dalam Menjaga Kontinuitas Amal, Berdoa Agar Diberikan Jiwa yang Istiqamah, Kemudia beliau menjelaskan Buah dari Istiqamah Adalah :

  1. Amal Shalih Menjadi Mendarah Daging dalam Jiwa ;

Salah satu buah paling indah dari istiqamah adalah ketika amal shalih yang dahulu diperjuangkan dengan penuh kesungguhan akhirnya menjadi bagian dari kepribadian seseorang. Pada awalnya, suatu amal mungkin terasa berat: harus melawan rasa malas, menundukkan hawa nafsu, dan memaksa diri untuk melakukannya. Namun ketika amal itu terus dijaga, didawamkan, dan disertai doa yang tulus kepada Allah agar diberikan kekuatan untuk mempertahankannya, maka perlahan-lahan Allah akan menanamkan kecintaan terhadap amal tersebut di dalam hati. Apa yang dahulu terasa berat berubah menjadi ringan, bahkan menghadirkan ketenangan dan kebahagiaan dalam jiwa.

Ketika seorang hamba telah sampai pada keadaan ini, amal shalih itu tidak lagi sekadar perbuatan yang sesekali dilakukan, tetapi telah mendarah daging dalam dirinya. Ia merasa rindu untuk melakukannya, hatinya tenang ketika mengerjakannya, dan jiwanya terasa kosong jika meninggalkannya. Ia tidak lagi dipaksa oleh orang lain untuk berbuat kebaikan, karena hatinya sendiri telah condong kepada ketaatan. Pada saat itulah amal shalih menjadi identitas ruhani seseorang; ia dikenal dengan shalatnya, dengan tilawahnya, dengan sedekahnya, atau dengan akhlaknya yang mulia.

Keadaan seperti ini sesungguhnya merupakan anugerah besar dari Allah. Ia bukan sekadar hasil dari usaha manusia, tetapi merupakan bentuk taufik dan karunia ilahi yang Allah tanamkan dalam hati hamba-Nya yang terus berusaha mendekat kepada-Nya. Dalam bahasa para ulama tasawuf, inilah saat ketika ketaatan telah menjadi kebiasaan jiwa (malakah), sehingga seorang hamba merasakan manisnya ibadah dan kedekatan dengan Allah. Maka sungguh beruntung orang yang Allah anugerahi keadaan seperti ini, karena ia telah menemukan kenikmatan sejati dalam beribadah kepada Tuhannya.

  1. Tetap Mendapatkan Pahala ;

Salah satu buah yang sangat agung dari istiqamah dalam beramal adalah bahwa amal shalih yang telah menjadi kebiasaan seorang hamba tidak akan terputus pahalanya, meskipun suatu saat ia tidak mampu melaksanakannya karena adanya uzur. Kadang seorang hamba terhalang dari amal yang biasa ia lakukan karena sakit, perjalanan, atau keadaan lain yang berada di luar kemampuannya. Namun jika sebelumnya ia telah terbiasa menjaga amal tersebut dengan istiqamah, maka Allah tetap menuliskan pahala amal itu baginya sebagaimana ketika ia melakukannya dalam keadaan sehat dan tidak bepergian. Hal ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam ketaatan.

Rasulullah bersabda: Yang Artinya: “Apabila seorang hamba sakit atau sedang bepergian, maka Allah tetap menuliskan baginya pahala sebagaimana amal yang biasa ia lakukan ketika ia sehat dan sedang tidak bepergian.”(HR. Ahmad, Al-Bukhari, dan Abu Dawud). Hadis ini memberikan penghiburan yang sangat besar bagi orang-orang yang istiqamah dalam beramal. Amal yang telah menjadi kebiasaan dan dilakukan dengan keikhlasan tidak akan hilang pahalanya hanya karena seseorang terhalang oleh uzur. Justru kebiasaan amal itulah yang menjadi sebab Allah tetap menuliskan pahala baginya. Oleh karena itu, seorang mukmin hendaknya berusaha menjaga amal-amal shalih secara terus-menerus, walaupun sedikit. Sebab ketika amal itu telah menjadi kebiasaan yang istiqamah, maka kebaikannya tidak hanya dirasakan ketika ia mampu melakukannya, tetapi juga tetap mengalir pahalanya ketika ia terhalang oleh keadaan. Inilah salah satu keindahan dari istiqamah dalam beribadah kepada Allah.

  1. Kematian Ditutup dengan Amal Shalih yang Ia Dawamkan.

Salah satu buah yang sangat agung dari istiqamah adalah ketika Allah menutup kehidupan seorang hamba dengan amal shalih yang selama ini ia jaga dan ia cintai. Apa yang terus- menerus dikerjakan oleh seseorang, diperjuangkan dengan kesungguhan, dan dimohonkan kepada Allah dalam doa-doanya perlahan akan membentuk jalan hidupnya hingga akhir hayat. Karena itu para ulama sering mengatakan bahwa seseorang biasanya akan diwafatkan dalam keadaan yang sesuai dengan kebiasaan amalnya. Jika seseorang membiasakan lisannya dengan dzikir, hatinya dengan tilawah Al-Qur’an, dan malamnya dengan qiyamullail, maka besar harapan bahwa Allah akan menutup hidupnya dalam keadaan yang mulia tersebut.

Dalam sejarah kaum salihin banyak diceritakan bahwa sebagian orang yang sangat mencintai Al-Qur’an diwafatkan dalam keadaan sedang membaca Al-Qur’an, dan sebagian ahli qiyamullail diwafatkan ketika sedang berdiri dalam shalat malam. Hal ini bukanlah sesuatu yang mengherankan, karena kematian sering datang dalam keadaan yang paling sering dilakukan oleh seseorang dalam kehidupannya. Oleh sebab itu para ulama sering mengingatkan: “Barang siapa yang hidup di atas sesuatu, ia akan mati di atasnya; dan barang siapa yang mati di atas sesuatu, ia akan dibangkitkan di atasnya.” Maka jika seorang mukmin menginginkan akhir kehidupan yang baik, hendaknya ia membiasakan dirinya dengan amal- amal shalih sejak sekarang, menjaga ketaatan dengan istiqamah, dan terus memohon kepada Allah agar dianugerahi husnul khatimah, yaitu wafat dalam keadaan sedang mendekat kepada- Nya.Karena itu, setelah Ramadhan berlalu, seorang mukmin hendaknya tidak membiarkan semangat ibadah yang telah ia bangun selama sebulan penuh kembali melemah dan hilang. Ramadhan adalah madrasah yang melatih jiwa untuk mencintai ketaatan; maka setelahnya kita dituntut untuk mempertahankan amal-amal tersebut agar tetap hidup dalam keseharian kita. Jika kita mampu menjaga shalat, tilawah Al-Qur’an, sedekah, dan berbagai amal kebaikan sebagaimana yang kita lakukan di bulan Ramadhan, maka itulah tanda bahwa Ramadhan telah meninggalkan jejak hidayah dalam hati kita. Semoga Allah meneguhkan hati kita dalam ketaatan, menjadikan kita termasuk orang-orang yang istiqamah setelah Ramadhan, dan menutup kehidupan kita dengan amal shalih yang paling dicintai-Nya.

 

Rep_ Abu Hanifah_