
ADAB MENJADI ORANG SHALIH
KH. HUSEN ZAINAL MUTTAQIN, Lc, M.Pd
Bidgar Dakwah PD PERSIS GARUT
A.Muqaddimah
1.Pengertian Orang Shalih
Secara sederhana, orang shalih adalah orang yang taat kepada Allah Swt, semua perintahnya dilaksanakan dan semua yang dilarang-Nya ditinggalkan.
2.Tingkatan kesalihan
Tingkatan kesolehan berbeda-beda, ada yang sempurna, baik sekali, baik, cukup, kurang atau kurang sekali.Hal itu, tergantung sejauhmana dia menyempurnakan ketaatannya kepada Allah. Jika semua perintah Allah dikerjakan dengan sempurna, demikian pula semua yang dilarang oleh Allah ia tinggalkan dengan sempurna, maka tingkatan kesolehannya pun sempurna.
3.Variable Kesalihan
Perintah Allah dan Rasul-Nya, kemudian yang dilarang oleh Rasul-Nya tentunya sangat banyak.Yaitu, syareat islam secara keseluruhan, dengan berbagai cakupannya.Misalnya, dalam hadis tentang syu’abul-iman atau cabang-cabang keimanan, Nabi Saw menyebutkan terdapat 70 lebih cabang keimanan.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ – أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ – شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ»
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- secara marfū’, (Nabi bersabda), “Iman itu memiliki tujuh puluhan lebih atau enam puluhan lebih cabang; cabang yang paling utama ialah ucapan Lā ilāha illallāh (tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah), dan cabang yang paling rendah ialah menyingkirkan duri dari jalan, dan malu adalah salah satu cabang dari iman.
Nabi menyebutkannya bid’un yaitu bilangan dari tiga sampai 9. Oleh seorang ulama dikumpulkan hadis-hadis tentang cabang keimanan dan ia menemukannya 77 cabang.
4.Sudahkan Menjadi Orang yang Shalih?
Sudahkan menjadi orang shalih? Tingkat berapakah keshalihan kita?Pertanyaan yang harus direnungkan. Jika cabang keimanan terdapat 77 cabang, berapa cabang yang sudah kita miliki? Apakah setiap cabang sudah sempurna? Meskipun variable keshalihan itu banyak, menyempurnakannya adalah perjalanan yang sangat panjang . Maka setidaknya, kita sudah berada dalam kesalihan itu dan berjuang untuk lebih baik dan menuju kesempurnaan.
B.Enam (6) Adab menjadi Orang Shalih
1.Takut Tidak Menjadi Orang Shalih
Tidak shalih artinya tidak taat kepada Allah, perintah dan laranggannya diabaikan.Tentunya hal itu mengundang kemarahannya Allah Swt.Syetan dilaknat karena satu perintah yang diabaikan, yaitu diperintah sujud kepada Adam ia menolak.Nabi Adam di usir dari surga karena hanya satu larangan yang ia abaikan, yaitu jangan mendekati pohon, tetapi malah ia dekati dan memakan buahnya.
Terkadang seseorang menganggap “abai” itu sesuatu yang ringan, padahal disisi Allah sesuatu yang sangat “besar”.Al-Quran menjelaskan “Kalian menganggapnya ringan padahal disisi Allah suautu yang besar” ( Surat al-Nur).Dalam suatu hadis orang yang disiksa di alam kubur karena sesuatu yang dianggapnya kecil, padahal di sisi Allah masalah yang besar.
Wajib mempelajari syareat dengan sebaik-baiknya jangan ada perintah dan larangan yang terlewatkan.Syeikh Muhammad Abdul Wahab beranggapan orang yang tidak mau mempelajari agama dianggap telah melakukan sesuatu yang membatalkan keislamannya.
2.Bersyukur
Kesalihan adalah anugrah Allah yang paling besar melebihi anugrah materi dunia.Ketika seseorang dapat menegerjakan ketaatan atau satu bentuk ibadah, sebenarnya ia telah mendapat anugrah yang sangat besar dari Allah Swt.Misalnya dalam sebuah Hdis Rasulullah Saw, “Shalat qabla subuh 2 rakaat lebih baik dibandingkan dunia dengan isinya”.Maka saat seseorang dapat mengerjakan satu bentuk ibadah hadirkan perasaan bahwa ia sedang mendapatkan anugrah besar dari Allah yang wajib disyukuri.
3.Takut Kesalihannya Tidak Tidak Diterima
Kesalihan atau ketaatan yang dilakukan seseorang belum tentu diterima oleh Allah Swt.Dalam al-Quran, yang akan masuk neraka, bukan saja tidak memiliki amal shalih, tapi dia beramal dengan begitu cape, namun Allah tidak ridha dan menolaknya.Demikian pula orang yang shalatpun diancam akan celaka.Sedangkan didalam hadis dijelaskan banyak sekali orang shaum tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan haus, juga diriwayatkan , ada orang yang shalat selama 60 tahun, namun tak ada satu pun shalatnya yang diterima.
Penyebab tidak diterimanya amal shalih di tolak oleh Allah Swt, karena Ia Maha Baik, hanya kan menerima yang baik, ibadah yang asal dikerjakan tanpa menyempurnakan semua persyaratan hasilnya tidak akan maksimal.Menurut Syeikh al-Hilali, dalam kitab Bahjatu-n-nazhirin, 1/29., bahwa syarat diterimanya amal ada 4(empat),
Pertama: ikhlas, yaitu amal yang dkerjakan betul-betul dipersembahkan bagi Alah hanya mengharapkan balasan dari Allah bukan dari makhluq.
Kedua, Mutabaah yaitu amal yang dikerjakan diapstikan benar-benar sesuai dengan tuntunan dari Rasulullah. Menurut al-Hilali bahwa kedua syarat itu adalah syarat sihatul amal semua amal tidak sah tidak diterima jika tidak terpenihi kedua syarat itu.Sedangkan syarat ketiga dan ke empat adalah syarthu-l- kamal yaitu syarat kesempurnaan amal.
Ketiga, al-akhdzu bil quwwah, mengerjakan amal itu dengan total dengan segenap kekuatan yang dimiliki, bukan asal-asalan.
Keempat,al-Musaraah wal musabaqah bersegera menegrjakannya dan mesti memiliki jiwa musabaqah yaitu keinginan untuk menjadi yang terbaik di hadapan Allah Swt.
4.Takut Keshalihannya dicabut
Keshalihan dan ketaatan yang dikerjakan seseorang bisa jadi dicabut oleh Allah, sehingga orang tersebut berobah menjadi malas, amal shaleh yang biasa ia kerjakan sudah lama ia tinggalkan.Bahkan, sekarang ia sudah terbiasa mengerjakan dosa dan maksiat.Naudzu billahi mindzalik
Untuk mengatasi hal ini ada beberapa langkah yang mesti dilakukan
Pertama,Himmah ‘Aliyah yaitu tekad dan niat yang agung.Yaitu, seseorang saat mengerjakan amal shalih atau ketaatan harus memiliki tekad yang agung bahwa amal yang dikerjakannya itu tidak akan ditinggallkan selama hayat dikandung badan, bahkan ia mencita-citakan saat ia mati dikhiri dengan amal tersebut.
Kedua, Mujahadah yaitu memaksakan diri untuk senantiasa mengerjakan kesalihan dan ketaatan,tidak sampai ditinggalkan meskipun hanya sekali.Jika ia terpeleset sehingga ia meninggalkan amal shalih itu sehari,dua hari atau tiga hari, cepat-cepat bangun tidak larut, bersegera untuk kembali beramal.
Ketiga, berdoa.Yaitu memohon kekuatan kepada Allah untuk dapat mengerjakan semua amal shalih dengan kontinyu atau dawam.La haula wala quwwta illa billah.Demikian pula memohon kepada Allah agar ketikmatan bermal shali itu tidak dicabut dari dirinya :
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚاِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ
(Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari hadirat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.(Qs Ali Imran ayat 8)
5.Takut Ganjaran Kesaliahannya Tidak bisa Ia terima di hari kiamat
Amal shalih yang dikerjakan oleh seseorang pahalanya belum tentu bisa diterima di hari kiyamat.Bisa jadi batalkan atau dihancurkan jadi debu atau dialihkan pahal amal shalihnya kepada orang yang pernah ia zalimi di dunia
وَقَدِمْنَآ اِلٰى مَا عَمِلُوْا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنٰهُ هَبَاۤءً مَّنْثُوْرًا
Kami perlihatkan segala amal529) yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.(QS : Al-Furqan ayat 23)
Terdapat beberpa penyebab hancurnya amal,
pertama kekafiran, ayat di atas menceritakan nasib orang-orang kafir yang banyak mengerjakan kabaikan atau hal-hal yang bermanfaat, pada hari kimat ia berharap akan dapat imbalan dari Allah Swt, namun ternyata semua ganjaran amal shalihya itu hanya diperlihatkan sesaat kemudian dihancurkan menjadi debu.
Demikain pula nasib seorang mukmin, apabila seumur hidupnya menjadi seorang mukmin banyak mengerjakan amal shalih, namun ia menjadi murtad dan kafir, maka semua amal shalih yang dikerjakannya tempo dahuli akan dihancurkan menjadi debu.
وَمَنْ يَّرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَاُولٰۤىِٕكَ حَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ ۚ وَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
Siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya lalu dia mati dalam kekafiran, sia-sialah amal mereka di dunia dan akhirat. Mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.(QS Al-Baqarah 217)
Kedua, kemusyrikan
Demikian pula yang bisa menghancurkan pahal amal shalih adalah kemusrikan, Allah Swt berfirman
وَلَقَدْ اُوْحِيَ اِلَيْكَ وَاِلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَۚ لَىِٕنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
Sungguh, benar-benar telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang (para nabi) sebelummu, “Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan gugurlah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang rugi.(Qs al-zumar ayat 65)
Ketiga, akhlaq yang jelek
Saat berinteraksi sosial ia melakukan berbagai bentuk kezaliman, baik terhadap kehormatan seseorang, seperti merendahkan, mencacimaki, menghina, dan ghibah. Atau pada pisiknya,memukul, menganiyaya bahkan sampai membunuhnya. Demikain pula zalim terhadap hartanya, dengan ghasab, mencuri, tidak bayar hutang atau yang lainnya.Di hari kiamat nanti akan diperlihatkan semua ganjaran amal shalihnya kemudian akan diberikan kepada orang-orang yang terzalimi yang datang untuk meminta pertanggunag jawaban.
Sebagaimana yang dijelaskan oleh hadis berikut ini ;
قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَدْرُوْنَ مَاالْمُفْلِسُ؟ قَالُوا اَلْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَدِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ هِ فَإِنْ فُنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَ مَا عَلَيْهِ أُخِذَا مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ
Rasulullah bersabda: “Tahukah kamu, siapakah yang dinamakan muflis (orang yang bangkrut)?”. Sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut menurut kami ialah orang yang tidak punya dirham (uang) dan tidak pula punya harta benda”. Sabda Nabi: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku datang dihari kiamat membawa salat, puasa dan zakat. Dia datang pernah mencaci orang ini, menuduh (mencemarkan nama baik) orang ini, memakan (dengan tidak menurut jalan yang halal) akan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang ini. Maka kepada orang tempat dia bersalah itu diberikan pula amal baiknya. Dan kepada orang ini diberikan pula amal baiknya. Apabila amal baiknya telah habis sebelum hutangnya lunas, maka, diambil kesalahan orang itu tadi lalu dilemparkan kepadaya, sesudah itu dia dilemparkan ke neraka (HR. Muslim).
6.Takut Kesalihannya Menjadi Alat kesombongan dan kemaksiatan
Banyak orang yang terpedaya dengan amal shalihnya,setelah beramal shalih ia menjadi oarng yang sombong merasa sudah menjadi orang yang shalih dan baik, merendahkan dan mencaci maki orang lain.Kesalihannya menjadi alat kesombongan dan kemaksiatan.Padahal amal shalih yang ia lakukan belum tentu diterima,dan belum tentu selamanya, esok atau lusa bisa jadi sudah ditinggalkan, kemudian orang yang ia rendahkan dan hina bisa jadi lebih baik dari dirinya.Ketika ia melihat hal-hal yang jelek dari orang yang dihina dia tidak mengetahui, bisa jadi ia memiliki amal-amal shalih yang agung yang hanya Allah yang tahu, bisa jadi perbuatan yang jelek itu sudah Allaoh mengampuni karena sebab atau faktor yang hanya Alllah yang mengetahuinya.Bahkan bisa jadi orang dihina itu suatu saat akan berobah menjadiorang yang sangat shalih sedangkan orang yang menghina berubah menjadi orang yang paling durhaka.
Berikut ini ada dua buah kisah yang perlu direnungkan
Pertama, Kisah calon ahli syurga
Diceritakan ada seorang dai dari negara Maroko, pada suatu malam ia bermimpi berjumpa dengan Rasulullah.Dalam mimpinya itu Rasulullah Saw memerintahkan kepadanya untuk pergi ke kota Mekah unutk menemui seseorang yang bernama fulan bin fulan di daerah pulan.Rasul pun memerintahkan agar menyampaikan salam pada orang tersebut dan menyampaikan kabar gembira bahwa ia calon penghuni syurga.Pada mulanya ia tidak menggubris mimpi tersebut, menganggapnya hanya sebagai bunga tidur saja.Namun, mimpi itu berulang samoai 3 kali.Maka ia meyakini bahwa ini adalah mimpi yang benar yang wajib dilaksanakan.
Ia bernagkat ke tanah suci dengan niat mengerjakan ibadah umraoh dan mencari orang tersebut yang disebutkan begitu jelas oleh Rasulullah nama dan tempat tinggalnya.Selepas tahalul dan masih berpakaian ihram ia pergi mencari orang dalm mimpinya itu ditemani oleh temanya serang dai dari di kota Mekah.Saat sampai di daerah yang dituju-ternyata daerah kumuh-ia bertanya mengenai keberadaan orang tersebut, penduduk tersebur merasa kaget kenapa ada orang yang shalih mau berkunjung ke tempat itu dan mencari orang tersebut.Singkat cerita berjumpa lah denga orang yan dituju.Ia berusaha meyakinkan apakah anda bernama Fulan bin Fulan ? Ia menjawab yan benar itu adalah saya.Saya bermimpi berjumpa denganRasulullah disuruh menjumpai ada dan menitipkan pesan dari beliau, pertama, Rasulullah mengucapkan salam bagi mu .Kedua, Rasulullah mengucapkan selamat bahwa engkkau ahli syurga. Orang itu kaget, dan menganggap itu hanya bercanda, namun si dai itu meyakinkan bahwa ia tidak bercanda apalagi berbohong, ia mengatakan litalah saya berasal dari negara yang jauh yaitu Maroko, kemuidan saya masih memakai kain ihram, apa yang saya katakan adalah benar.Saya datang kesini ingin bertanya , amal apakah yang kamu lakukan sampai mendapatkan kemulian tersebut.Orang tersebut kebingungan, ia mengatakan saya bukan orang yang baik, penduduk di sini mengenal saya sebagai orang yang jelek saya tidak punya kebaikan yang bisa dibanggakan.Namun setelah terus-terusan didesak, ia terus berpikir mencaricari amal shalih yang pernah ia kerjakan, dan pada akhirnya ia berkat, barang kali iani adalah sebuah kebaikan, dulu tetangga saya suaminya meninggal anaknya banyak, saya berjajnji kepada Allah akan membantu mengurus merek sesuai dengan kemampuan saya, dan itu saya lakukan sampai sekarang.Si dai pun tertegun, lalu berkata;”itulah amal yang agung yang membuat Allah ridha.Wahai saudaraku!sebentar lagi adzan mari kita kemsjid bersam-sama, masih banyak yang akan saya tanyakan kepada saudara, barangkali akan sangaat bermanfaat bagi saya.Orang trrsebut terkejut, seraya berkata:”Saya tidak suka kemsjid saya akan dirumah saja”.Si dai terus mendesak akhirnya iapun setuju dan bersiap -siap dahulu ke mesjid, madi dan memakai pakaian yag bersih.Sepanjang jalan ke mesjid ia tidak berhenti istighfar dan menangis, kenapa orang yang begitu jauh datang ke kota Mekah hanya sekedar untuk bisa shalat di mesjidil Haram, sedangkan saya yang begitu dekat malas dan tidak mau melangkahkan kaki ke mesjid.Saat ia shalatpun ia terus menenerus menangis menyesali dosa-dosanya.Ketika si dai itu salam,ia melihat temanya itu masih tetap sujud, saat ia mendekatinya ia terkejut ternya ia sudah meninggal menghdap kepada Allah dalam keadaan sjud.
Pelajaran dari kisah ini adalah, jangan meremehkan orang lain, bisa jadi yang diremehkan itu memiliki amal yang sangat agung sehingga Allah sangat ridha dan mengampuni dosa-dosanya kemudiann memuliakannya denga husnul khatimah.
Kedua, Kisah seorang ulama dan seorang pemambuk
Diceritakan ada seorang ulama selepas memberikan kajian malam, ia pulang kerumahnya ditemani para muridnya.Di tengan perjalanan, berjumpa denga seorang pemabuk yang sedang mabuk berat dari mulutnya tercium bau alkohol.Semua muridnya geram memaki-makinya dan hampir mau memukulnya.Namun, si alim itu melarangnya, bahkan memperlakukannya dengan lemah lembut seraya mengucapkan salam, si pemabuk menoleh sambil berkata, wahai kiyai, “Apakah Allah maha kuasa? Maka dijawab dengan ramah,” Allah maha kuasa”.
Pada malam berikutnya, kejadian serupa terjadi.Dan pada malam yang ketiga terjadi pula hal yang sama namun ada peristiwa yang membuat kaget para muridnya.Yaitu, setelahnya sipemabuk bertanya apakah Allah maha kuasa? Maka si alim pun memberi jawaban yang sama, Allah maha kuasa. Setelah itu si alim terus menurus mengulang kalimat Allah maha kuasa, Allah maha kuasa, sepanjang jalan ia terus mennerus mengulang kalimat tersebut, sampai akhirnya menangis, tubuhnya lemah kemudian ia pun duduk dan terus menerus menagis dan mengatkan Allah maha kuasa.Muridnya kaget seraya berkata; kenapa engkau menangis? Kenapa engkau selalu mengatakan Allah maha kuasa.Si Alim menjawab, saya sedang memikirkan pertanyaan si pemabuk apa makna dibalik pertanyaan itu ?pada malam pertama si pemabuk mengatakan apakah Allah maha kuasa? Maksudnya adalah apakah Allah maha kuasa menghapus dosa-dosa saya yang begitu banyak? saya menjawab Allah Maha kuasa.Pada malam kedua, Apakah Allah maha kuasa menjadikan aku seorang pemabuk dan ahli maksiat menjadi orang yang shalih seperti mu? Aku menjawab Allah Maha Kuasa. Malam ketiga, Apakah Allah kuasa menjadikan engkau orang yang shalih menjadi berubah menjadi seperti aku sipemabuk dan ahli maksiat? Akupun menjawab, “Allah Maha Kuasa”.
Inilah yang aku takutkan, takut kesalihan yang selama ini dilakukan, membuat aku sombong, merendahkan orang lain sehingga, amal shalih saya menjadi hancur oleh keburukanku, sehingga Allah murka, mencabut kesalihan saya, dan menjadikannya sebagai orang yang jahat dan ahli maksiat. Si Alim pun terus menagis dan istighfar.